Desa Lamamek
Nanggroe Aceh Darussalam

Saat ini INFORMASI yang anda butuhkan mungkin tersedia di maininternetonline.blogspot.com
silahkan menuju blog baru saya dan dapatkan informasi lengkap yang anda butuhkan klik disini

17 Maret 2008

Gempa Simeulue

Banda Aceh - Warga Kabupaten Simeulue yang menderita luka berat dan ringan akibat bencana alam gempa bumi yang mengguncang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Rabu (20/2) siang, telah bertambah menjadi 51 orang, tiga orang di antaranya meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
Gempa berkekuatan 6,6 pada Skala Richter (SR) itu terjadi Rabu sekitar pukul 13.08 WIB dengan posisi 2,58 lintang utara (LU) - 95,99 bujur timur (BT) berada pada kedalaman 30 km dari permukaan tanah sekitar 42 km sebelah barat laut Sinabang, Ibu Kota Kabupaten Simeulue.
Menurut Kepala Dinas Sosial Kabupaten Simeulue, Zulmufti, Kamis (21/2), gempa tersebut merupakan yang terkuat kedua sepanjang sepuluh tahun terakhir, setelah 28 Maret 2005 yang meluluhlantakkan sejumlah bangunan milik pemerintah dan swasta di kawasan gugusan Pulau Simeulue dan Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Daerah terparah kawasan Kecamatan Simeulue Timur, selain dua warga tewas dan 26 orang lainnya menderita luka berat dan ringan menyusul Simeulue Barat dengan ditemukan 25 orang luka akibat terhimpit reruntuhan bangunan. Selain itu, kata Zulmufti, dermaga feri di Kota Sinabang rusak parah, sebuah masjid rusak ringan, tiga kantor pemerintah rusak berat.
Kerusakan juga menimpa dua gedung sekolah dan sarana kesehatan. Aparat pemerintahan Simeulue dari semua dinas terkait telah diperintahkan Bupati Darmili turun ke lapangan untuk mendata jumlah korban manusia maupun bangunan rumah penduduk dan kantor milik pemerintah yang rusak. “Data yang telah berhasil dihimpun baru dua, Simeulue Timur dan Simeulue Barat, sedangkan dari enam kecamatan lainnya masih dalam pendataan,” katanya.

Warga Mengungsi
Sementara itu, sampai Kamis pagi, sebagian masyarakat masih mengungsi di perbukitan. Sedangkan warga yang tidak mengungsi, mendirikan tenda di depan rumah masing-masing untuk tempat tinggal sementara. Menurut Kepala Puskesmas Sidigo di Kecamatan Simeu-lue Barat, Gustinawati, listrik yang padam menyulitkan pertolongan bagi para pasien.
Meski demikian, kata Gustinawati yang dihubungi SH, pasien yang datang ke Puskesmas Sidigo tidak banyak, hanya dua orang yang mengalami cedera dan satu orang yang terluka di kepala yang kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Sinabang, di Kecamatan Simeulue Timur.
Puskesmas Sidigo berjarak 3,5 jam dari tengah kota. Itu pun jalan darat tidak bisa dilalui karena kondisi jalan terputus, sehingga tim kesehatan yang hendak menuju puskesmas tersebut terpaksa melewati sungai dengan rakit.
Kepala Pusat Pengendalian Krisis dan Bencana, dr Rustam Pakaya, juga mengungkapkan kepada SH, bahwa listrik di Simeulue padam, menara Telkomsel rusak, 17 rumah hancur, dan banyak bangunan publik yang rusak. “Ada beberapa bangunan Puskesmas yang rusak. Saya sudah perintahkan dokter-dokter di Simeulue untuk keliling mencari korban gempa,” katanya.
Menurut Rustam, masyarakat masih mengungsi di bukit-bukit karena takut terjadi smong (tsunami), meskipun aparat setempat sudah memberi tahu bahwa tidak akan terjadi tsunami. Kamis pagi sepuluh dokter spesialis termasuk dokter bedah tulang dari Pusat Krisis Regional Medan dan Banda Aceh datang ke lokasi bencana dengan membawa obat-obatan, peralatan lengkap dan makanan. Tetapi, rombongan dari Banda Aceh hanya bisa menggunakan kapal laut dengan jarak tempuh 13 jam. (ant)


sumber :
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0802/21/sh05.html

0 komentar:

Main Internet Online

Followers


Labels